Monokulturisme: Awal Penggurunan Kalimantan

Posted on 6 Desember 2006. Filed under: Hutan, Perkebunan |

Luas lahan kritis dan menuju kritis di Kalimantan Timur yang telah mencapai luasan 6,4 juta hektar atau 32,5% daratan akan semakin meluas apabila Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten-Kota di Kalimantan Timur tetap mengedepankan pengembangan perkebunan skala luas dengan komoditi tunggal. Pengalihan kawasan hutan tropis basah menjadi kawasan perkebunan skala luas, pertambangan dan hutan tanaman industri berimplikasi pada semakin luasnya lahan kritis dan akan meninggalkan gurun yang tak mampu lagi memberikan kehidupan bagi manusia dan satwa yang berkehidupan di atasnya.

Monokulturisme atau budaya pengembangan lahan dengan komoditas tunggal, selalu menjadi sebuah program utama dari pemerintah saat ini, dengan asumsi akan membuka lapangan kerja, meningkatkan ekonomi lokal dan berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan, ternyata tidak dapat dibuktikan pada tingkat realita maupun pada tingkat kajian ilmiah.

Kondisi lahan di kawasan hutan tropis basah telah disajikan oleh alam untuk mampu memberikan kehidupan kepada makhluk di kawasan tersebut. Interaksi antara manusia, satwa dan vegetasi, beserta komponen lingkungan lainnya telah menyajikan hubungan yang saling berketergantungan. Namun ketika pemerintah, sebagai pemegang mandat pengelolaan, melakukan upaya perubahan kondisi kawasan, secara perlahan kemudian akan menyajikan hamparan lahan kritis dan gurun yang hanya akan mampu menopang sebagian kecil makhluk hidup.

Pola perakaran jenis-jenis vegetasi hutan tropis dalam tingkatan kedalaman berbeda menjadi sebuah keharusan di lahan Kalimantan Timur yang didominasi oleh jenis tanah podsolik yang miskin hara. Siklus hara dan mineral tanah dapat diserap oleh komponen vegetasi dengan kapasitas yang berbeda-beda, sehingga siklus hara dan mineral tanah tetap berkelanjutan keberadaannya.

Pola perladangan gilir balik yang dilakukan oleh komunitas lokal di Kalimantan merupakan sebuah upaya untuk tetap menjaga ketersediaan hara di dalam lapisan tanah agar tetap mampu memberikan kehidupan pada generasi selanjutnya. Pengetahuan yang dibentuk dari proses belajar dari alam ini, senyatanya telah memberikan ruang pengetahuan yang luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan di tanah Kalimantan. Perladangan gilir balik yang dilakukan oleh komunitas lokal, termasuk sistem tata ruang komunitas lokal, bukanlah semata untuk penguasaan atas lahan, namun lebih pada sebuah tata pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan, sebagaimana yang selalu didengungkan dalam cita-cita pembangunan negeri ini.

Ketika kemudian pemerintah memberikan kawasan hutan tropis basah kepada pengusaha perkebunan, yang kemudian melakukan pembukaan lahan secara luas dengan komoditi satu jenis (monokultur), maka yang terjadi adalah pengikisan tanah dan pencucian zat hara dan mineral tanah yang secara perlahan akan menyisakan tanah tanpa hara. Pengelolaan lahan dengan monokultur juga akan menyisakan hara dan mineral tanah ke badan-badan perairan yang berimplikasi terjadinya pendangkalan di aliran perairan sekitar kawasan.

Belum termasuk disaat kawasan hutan tropis basah harus dibongkar untuk kepentingan pertambangan mineral maupun minyak dan gas, dimana terjadi pengubahan bentang lahan dan struktur tanah, yang hanya akan menyisakan danau-danau besar beracun dan terjadinya perubahan secara mendadak terhadap siklus hidrologi, dan akan berimplikasi pada bencana ekologi berupa kekeringan dan banjir.

Kawasan Kaltim yang pada umumnya merupakan kawasan berbukit, hanya sedikit memiliki kawasan dengan kualita lahan yang sangat baik. Pada kawasan yang cenderung datar, sebenarnya memiliki berbagai permasalahan apabila dilakukan pengubahan penggunaan lahan menjadi kawasan perkebunan skala luas. Kawasan datar ini pada umumnya berada di sempadan sungai, hutan rawa (gambut) dan hutan kerangas.

Karakteristik tanah di kawasan sempadan sungai, rawa (gambut) dan kerangas, sejatinya sangat tidak baik untuk sebuah kawasan budidaya perkebunan dan pertanian. Kawasan hutan kerangas (the heath forest) yang didominasi vegetasi Gymnostoma nobile, Myrmecophytes dan Nepenthes sp. Dalam bahasa Dayak Iban, kerangas berarti tanah yang tidak bisa ditumbuhi padi. Hutan kerangas umumnya didominasi oleh tanah asam yang tergenang dengan pH di bawah 4 dan memiliki kandungan liat yang sedikit. Kondisi lain pada hutan kerangas adalah ditemukannya lapisan tanah keras (batuan) yang menjadi penghambat aliran air masuk ke dalam tanah. Kawasan hutan kerangas dikategorikan IUCN (The International Union for The Conservation of Nature – World Conservation Union) dengan status vulnerable (rawan).

Pada kawasan rawa (gambut), walaupun memiliki kandungan humus yang tinggi, namun unsur hara yang tersaji pada kawasan ini sangat sedikit dan memiliki keasaman yang tinggi. Semakin tebal gambut pada kawasan ini, semakin tidak layak untuk sebuah pengembangan budidaya tanaman, walaupun telah dilakukan pendekatan teknologi pengolahan lahan. Sebuah studi European Space Agency menemukan bahwa pada kawasan rawa (gambut) sangat berperan terhadap pengikatan karbon, dimana pada kebakaran tahun 1997-1998 jumlah carbon yang terlepas ke atmosfer dari kawasan ini mencapai hingga 2,5 miliar ton dan pada kebakaran tahun 2002-2003 berkisar antara 200 juta hingga 1 miliar ton. IUCN mengkategorikan kawasan ini sebagai kawasan critically endangered (kritis).

Sedangkan pada kawasan sempadan sungai, menjadi penting untuk tidak menjadi kawasan budidaya tanaman, dikarenakan akan mengganggu aliran sungai, dimana dapat terjadi pengikisan tanah tepi sungai bila vegetasi di atasnya menjadi hilang. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kawasan lahan datar di Kalimantan cenderung memiliki permasalahan bila dikembangkan sebagai kawasan budidaya, terkecuali untuk kawasan tertentu yang luasannya sangat sedikit di Kaltim.

Pilihan bagi pemerintah agar tidak selalu mengedepankan program monokulturisasi menjadi hal yang sangat penting. Pola agroforestry (pengelolaan lahan dengan berbagai jenis tingkatan vegetasi/polikultur) harusnya menjadi pilihan pertama. Selain tidak akan menjadikan adanya ketergantungan komunitas lokal terhadap produk pabrik berupa bibit tanaman, pupuk dan pembasmi hama, pola agroforestry juga telah dilakukan oleh komunitas lokal selama ini.

Ketahanan pangan komunitas lokal juga akan tetap terjamin bila saja pemerintah melakukan perlindungan terhadap tata ruang yang telah dibangun oleh komunitas lokal. Tata guna lahan yang dibuat dalam satu komunitas lokal selama ini telah menunjukkan jaminan terhadap keberlanjutan ekonomi, ekologi dan sosial komunitas tersebut.

Konferensi Para Pihak Sesi Keenam United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), di Havana-Kuba, yang berlangsung pada awal September 2003, yang membicarakan gurun dan penggurunan di bumi, menghasilkan beberapa kesepakatan, di antaranya upaya bersama yang lebih konkret untuk setidaknya menahan laju penebangan hutan, dan juga penegasan bagi upaya penerapan hukum lebih keras. Penterjemahan ini dalam konteks Kaltim harusnya benar-benar tercermin dalam komitmen pemerintah propinsi dan kabupaten-kota.

Berlanjutnya kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di propinsi yang memiliki kekayaan alam berlimpah ini sangat tergantung kepada kepentingan politik pemerintah, yang merupakan pelayan rakyat. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi maupun Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten-Kota, serta kebijakan-kebijakan sektoral yang dilahirkan, sudah selayaknya tidak menghilangkan sumber-sumber kehidupan komunitas lokal, termasuk tidak menghilangkan sistem sosial-kultural rakyat. Pemerintah sudah seharusnya menghapus paham monokulturisme di dalam pemikirannya, menjadi paham polikulturisme (agroforestry).

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Monokulturisme: Awal Penggurunan Kalimantan”

RSS Feed for Informasi Lingkungan Hidup Indonesia Comments RSS Feed

huaaaaaaaa huaaaaa huaaaaaaaa. bisanya cuma nangis. semoga keadaan tidak menjadi lebih parah, akibat keserakahan manusia.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: